KAJIAN ISLAM TENTANG BAHAYA MENCELA PARA SAHABAT NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
Kajian ini melanjutkan pembahasan kitab Syarhus Sunnah karya Imam Abu Muhammad Al-Hasan bin Ali Al-Barbahari rahimahullah. Materi ini secara khusus memberikan peringatan tentang bahayanya mencela atau membicarakan keburukan para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Perkara ini sangat penting untuk diulang-ulang dan diingatkan kepada kaum muslimin, terutama di zaman yang penuh fitnah.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengabarkan sejak 1400 tahun yang lalu tentang datangnya tahun-tahun penuh tipu daya. Beliau bersabda:
سَيَأْتِي عَلَى النَّاسِ سَنَوَاتٌ خَدَّاعَاتٌ يُصَدَّقُ فِيهَا الْكَاذِبُ وَيُكَذَّبُ فِيهَا الصَّادِقُ وَيُؤْتَمَنُ فِيهَا الْخَائِنُ وَيُخَوَّنُ فِيهَا الْأَمِينُ
“Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya. Pada waktu itu, pendusta dianggap benar, orang yang jujur dianggap pendusta, pengkhianat diberi amanah, dan orang yang amanah dianggap pengkhianat.” (HR. Ibnu Majah)
Kenyataan tersebut dapat disaksikan hari ini, ketika kelompok yang gencar mencela bahkan mengkafirkan para sahabat mulia justru dianggap sebagai pembela Islam. Oleh karena itu, seluruh kaum muslimin wajib waspada terhadap propaganda yang menipu dengan cara mempelajari aqidah yang benar.
MENCELA SAHABAT ADALAH TANDA KESESATAN
Imam Al-Barbahari rahimahullah mengatakan dalam kitabnya bahwa jika seseorang melihat orang lain mencela, menghina, merendahkan, atau menuduh salah satu sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan hal yang tidak benar, maka itu adalah tanda nyata bahwa ia adalah pengikut hawa nafsu yang berada di atas kesesatan. Para sahabat telah dipuji oleh Allah ‘Azza wa Jalla dalam banyak ayat Al-Qur’an, sehingga mencela mereka berarti mengeluarkan ucapan yang buruk.
Apabila muncul pembicaraan mengenai keburukan para sahabat, setiap muslim diperintahkan untuk menahan diri. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إذا ذُكر أصحابي فأمسِكوا
“Jika para sahabatku disebutkan (keburukannya), maka tahanlah diri kalian (jangan ikut berbicara).” (HR. Ath-Thabrani)
Berdasarkan informasi dari Allah ‘Azza wa Jalla, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengetahui bahwa akan ada kesalahan atau kekeliruan yang terjadi di antara para sahabat sepeninggal beliau. Namun, beliau tidak berbicara tentang mereka kecuali dengan pujian dan kebaikan. Beliau juga berpesan agar membiarkan para sahabat dan tidak menyebarkan informasi mengenai kekeliruan atau peperangan yang terjadi di antara mereka, terutama perkara yang tidak diketahui hakikatnya. Mendengarkan berita-berita miring tentang sahabat dapat merusak ketenangan hati.
MENCINTAI SAHABAT ADALAH BAGIAN DARI IMAN
Salah satu ciri kemunafikan (an-nifaq) adalah membenci para sahabat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menegaskan bahwa mencintai mereka adalah tanda keimanan, sedangkan membenci mereka adalah tanda kemunafikan. Beliau bersabda mengenai kaum Anshar:
آيَةُ الإِيمَانِ حُبُّ الأَنْصَارِ، وَآيَةُ النِّفَاقِ بُغْضُ الأَنْصَارِ
“Tanda keimanan adalah mencintai kaum Anshar dan tanda kemunafikan adalah membenci kaum Anshar.” (HR. Bukhari)
Jika mencintai kaum Anshar saja merupakan tanda iman, maka mencintai kaum Muhajirin tentu lebih mulia lagi. Seluruh kaum muslimin wajib mencintai dan memuliakan para sahabat, terutama yang paling utama seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, serta anggota sepuluh sahabat yang dijamin masuk surga lainnya: Abdurrahman bin Auf, Abu Ubaidah bin al-Jarrah, Said bin Zaid, Saad bin Abi Waqqas, Thalhah bin Ubaidillah, dan Zubair bin Awwam. Menghormati mereka semua tanpa terkecuali merupakan kewajiban agama yang mutlak.
KEDUDUKAN MULIA PARA SAHABAT RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memuji para sahabat bahkan sebelum mereka hadir di muka bumi. Pujian terhadap mereka telah termaktub di dalam kitab Taurat dan Injil. Di dalam Al-Qur’an pun, Allah Subhanahu wa Ta’ala berulang kali menyebutkan sanjungan kepada mereka. Meskipun Allah Subhanahu wa Ta’ala mengetahui bahwa para sahabat tidak maksum dan dapat terjatuh dalam kekeliruan, kesalahan, maupun perselisihan, pujian terhadap mereka tetap kekal hingga hari kiamat karena ayat-ayat Al-Qur’an akan terus dibaca oleh umat manusia.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memperingatkan umatnya dengan tegas agar menahan diri apabila keburukan para sahabat disebutkan. Beliau bersabda:
إذا ذُكر أصحابي فأمسِكوا
“Jika para sahabatku disebutkan (keburukannya), maka tahanlah diri kalian (jangan berbicara).” (HR. Ath-Thabrani)
BAHAYA MENCELA PENUKIL SYARIAT
Setiap orang yang menjelek-jelekkan, mencela, atau merendahkan para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam merupakan pengikut hawa nafsu. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِنَ اللَّهِ
“Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun?” (QS. Al-Qashash [28]: 50)
Mencela sahabat adalah ciri ahli bid’ah dan orang munafik. Para sahabat adalah generasi yang menyampaikan agama ini kepada umat. Upaya mencela mereka sebenarnya bertujuan untuk meruntuhkan kredibilitas agama Islam. Apabila para sahabat sebagai perawi hadits dicela dan tidak dipercayai, maka syariat yang mereka bawa akan ditolak oleh manusia. Oleh karena itu, umat Islam wajib mewaspadai propaganda kelompok munafik yang ingin merusak Islam dari dalam, serta wajib tetap mencintai dan memuliakan para sahabat.
PERSELISIHAN DI KALANGAN SAHABAT SEBAGAI IJTIHAD
Imam Al-Barbahari rahimahullah menjelaskan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, berdasarkan wahyu dari Allah ‘Azza wa Jalla, telah mengetahui bahwa akan terjadi perselisihan di antara para sahabat sepeninggal beliau. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah mengabarkan tentang cucu beliau, Al-Hasan bin Ali:
إِنَّ ابْنِي هَذَا سَيِّدٌ، وَلَعَلَّ اللَّهَ أَنْ يُصْلِحَ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظِيمَتَيْنِ مِنَ الْمُسْلِمِينَ
“Sesungguhnya cucuku ini adalah seorang pemimpin (sayyid), semoga dengannya Allah mendamaikan dua kelompok besar dari kaum muslimin.” (HR. Bukhari)
Nubuat ini terbukti ketika Al-Hasan bin Ali memilih mundur dari kekhalifahan dan menyerahkannya kepada Muawiyah bin Abi Sufyan demi terciptanya perdamaian. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga telah menginformasikan akan adanya peristiwa yang melibatkan Aisyah Radhiyallahu ‘Anha dengan Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu.
Rentetan peristiwa tersebut menunjukkan bahwa para sahabat bukanlah manusia yang suci dari dosa, namun kebaikan mereka jauh lebih banyak dibandingkan kesalahan yang ada. Dalam menyikapi perselisihan tersebut, harus dipahami bahwa mereka adalah para mujtahid yang berusaha mencapai kebenaran. Sebagian sahabat menuntut agar pembunuh Khalifah Utsman bin Affan segera ditangkap dan di-qishash, sementara sebagian lainnya berpendapat bahwa stabilitas pemerintahan melalui baiat harus diutamakan terlebih dahulu sebelum mencari para pelaku kejahatan tersebut. Keduanya berijtihad demi kemaslahatan umat, sehingga setiap muslim wajib menjaga lisan dari memberikan penilaian buruk terhadap mereka.
Perselisihan yang terjadi di masa Khalifah Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu tidak terlepas dari provokasi kaum Khawarij. Mereka memicu keadaan sedemikian rupa karena menyadari bahwa jika para sahabat bersatu, kelompok provokator inilah yang pertama kali akan ditangkap. Terlepas dari fitnah tersebut, para sahabat tetaplah para mujtahid yang berupaya mencari kebenaran. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberikan kaidah mengenai ijtihad melalui sabdanya:
إِذَا حَكَمَ الْحَاكِمُ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَصَابَ فَلَهُ أَجْرَانِ وَإِذَا حَكَمَ فَاجْتَهَدَ ثُمَّ أَخْطَأَ فَلَهُ أَجْرٌ
“Apabila seorang hakim menghakimi suatu perkara, lalu ia berijtihad dan benar, maka baginya dua pahala. Dan apabila ia menghakimi suatu perkara, lalu berijtihad dan salah, maka baginya satu pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjamin ampunan bagi mereka. Kepada ahli Badar, Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Beramallah sesuka kalian, karena Aku telah mengampuni kalian.”
Begitu pula terhadap para sahabat yang berbaiat di bawah pohon (Baiatur Ridhwan), Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
لَقَدْ رَضِيَ اللَّهُ عَنِ الْمُؤْمِنِينَ إِذْ يُبَايِعُونَكَ تَحْتَ الشَّجَرَةِ
“Sungguh Allah telah rida kepada orang-orang mukmin ketika mereka berjanji setia kepadamu (Muhammad) di bawah pohon.” (QS. Al-Fath [48]: 18)
Secara umum, Allah Subhanahu wa Ta’ala juga menegaskan telah menerima tobat Nabi, kaum Muhajirin, dan Ansar.
Allah taala berfirman:
لَّقَد تَّابَ ٱللَّهُ عَلَى ٱلنَّبِيِّ وَٱلۡمُهَٰجِرِينَ وَٱلۡأَنصَارِ ٱلَّذِينَ ٱتَّبَعُوهُ فِي سَاعَةِ ٱلۡعُسۡرَةِ مِنۢ بَعۡدِ مَا كَادَ يَزِيغُ قُلُوبُ فَرِيقٖ مِّنۡهُمۡ ثُمَّ تَابَ عَلَيۡهِمۡ ۚ إِنَّهُۥ بِهِمۡ رَءُوفٞ رَّحِيمٞ
“Sesungguhnya Allah telah menerima tobat nabi, orang-orang muhajirin, dan orang-orang ansar yang mengikuti nabi dalam masa kesulitan setelah hati segolongan dari mereka hampir berpaling, kemudian Allah menerima tobat mereka itu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.” (QS. At-Taubah[9]: 117)
Bahkan terhadap mereka yang sempat berpaling pada Perang Uhud, Allah ‘Azza wa Jalla telah memaafkan mereka:
إِنَّ الَّذِينَ تَوَلَّوْا مِنْكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ إِنَّمَا اسْتَزَلَّهُمُ الشَّيْطَانُ بِبَعْضِ مَا كَسَبُوا ۖ وَلَقَدْ عَفَا اللَّهُ عَنْهُمْ
“Sesungguhnya orang-orang yang berpaling di antara kamu pada hari bertemu dua pasukan itu, sesungguhnya mereka digelincirkan oleh setan, disebabkan sebagian kesalahan yang telah mereka perbuat. Tetapi sungguh Allah telah memaafkan mereka.” (QS. Ali Imran [3]: 155)
SUNNAH SEBAGAI SOLUSI PERSELISIHAN
Karena Allah Subhanahu wa Ta’ala telah memberikan ampunan, maka merupakan suatu kesesatan apabila seseorang terus mengungkit kejadian-kejadian tersebut untuk mencela. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam yang sangat menyayangi umatnya telah memberikan wasiat jika terjadi perselisihan:
فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ
“Maka hendaklah kalian berpegang teguh pada sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)
Berpegang teguh pada sunnah akan mempersatukan dan memperkuat kaum muslimin. Meskipun Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah mengetahui akan adanya perselisihan sepeninggal beliau, beliau sama sekali tidak mencela para sahabatnya. Beliau justru melarang umatnya mencela mereka:
لَا تَسُبُّوا أَصْحَابِي فَلَوْ أَنَّ أَحَدَكُمْ أَنْفَقَ مِثْلَ أُحُدٍ ذَهَبًا مَا بَلَغَ مُدَّ أَحَدِهِمْ وَلَا نَصِيفَهُ
“Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang di antara kalian berinfak emas sebesar Gunung Uhud, pahalanya tidak akan sampai kepada satu mud (dua telapak tangan) infak mereka, bahkan tidak pula setengahnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
MENJAGA AQIDAH DARI SEJARAH YANG MENYIMPANG
Salah satu pokok aqidah Ahlussunnah wal Jamaah adalah memuliakan para sahabat dan tidak mengungkit peperangan yang terjadi di antara mereka. Imam Al-Barbahari memperingatkan agar tidak membicarakan kekeliruan mereka kecuali untuk tujuan meluruskan sejarah. Banyak kelompok menyimpang yang sengaja menulis sejarah untuk menghina sahabat seperti Muawiyah bin Abi Sufyan dan Amru bin Ash Radhiyallahu ‘Anhum.
Mempelajari sejarah dari sumber yang tidak jelas sangat berbahaya bagi aqidah. Untuk memahami hakikat kejadian secara benar, rujukan yang tepat diperlukan guna memberikan uzur kepada para sahabat. Salah satu karya yang direkomendasikan adalah Hiqbah minat Tarikh (حقبة من التاريخ) karya Syekh Utsman Al-Khamis.
Sikap mempermudah diri dalam mendengarkan narasi perselisihan sahabat dapat menimbulkan kebencian di dalam hati. Umat Islam harus waspada terhadap informasi sejarah yang tidak benar, riwayat lemah, atau kisah yang ditambah-tambahkan oleh pihak yang rusak aqidahnya. Kesalahan dalam memahami sejarah dan dalil dapat menjerumuskan seseorang pada penyimpangan yang fatal.
BAHAYA MENOLAK HADITS NABI SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM
Apabila seseorang mencela, menolak, atau mencari pedoman selain hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka keislamannya patut dipertanyakan. Fenomena ini sering dikaitkan dengan kelompok Quraniyun, yakni orang-orang yang mengaku hanya ingin mengambil Al-Qur’an dan menolak sunnah. Padahal, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam diberikan Al-Qur’an dan yang serupa dengannya, yaitu sunnah yang merupakan wahyu. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mengenai beliau:
وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَىٰ . إِنْ هُوَ إِلَّا وَحْيٌ يُوحَىٰ
“Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut keinginannya. Tidak lain (Al-Qur’an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm [53]: 3-4)
Allah ‘Azza wa Jalla juga memerintahkan umat manusia untuk menerima segala yang dibawa oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hashr [59]: 7)
Ketaatan kepada Rasul adalah ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Barangsiapa menolak sunnah yang shahih atau hasan, ia termasuk pengikut hawa nafsu dan ahli bidah. Jika penolakan tersebut dilakukan terhadap seluruh sunnah, maka perbuatan itu dapat mengeluarkan seseorang dari Islam.
KETAATAN KEPADA PENGUASA DALAM PERKARA MA’RUF
Kezaliman seorang penguasa tidak menggugurkan kewajiban ketaatan yang telah ditetapkan Allah Subhanahu wa Ta’ala melalui lisan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Selama perintah penguasa berada dalam perkara ma’ruf dan bukan maksiat, umat tetap wajib patuh. Kezaliman yang dilakukan penguasa akan menjadi tanggung jawabnya sendiri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla kelak.
Ibadah yang dilakukan di bawah pengaturan penguasa, seperti salat berjamaah, salat Jumat, zakat, puasa, hingga haji, tetap sah dan sempurna pahalanya. Begitu pula dalam hal jihad melawan kafir harbi yang menyerang kaum muslimin; ketaatan tetap wajib diberikan selama pemimpinnya masih muslim. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ
“Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam perkara yang makruf.” (HR. Bukhari dan Muslim)
CIRI PENYIMPANGAN KHAWARIJ DAN MU’TAZILAH
Seseorang yang selalu menjelek-jelekkan, merendahkan, atau mencela penguasa di tempat umum, media sosial, maupun mimbar-mimbar merupakan tanda keburukan. Tindakan tersebut merupakan ciri khas kelompok Khawarij dan Mu’tazilah. Mereka menyalah artikan prinsip amru bil ma’ruf nahi mil munkar sebagai legitimasi untuk memberontak (al-khuruj) terhadap penguasa yang zalim.
Berbeda dengan kelompok tersebut, Ahlussunnah wal Jamaah menegaskan kewajiban untuk tetap tunduk dan taat kepada penguasa meskipun ia bertindak zalim, selama ia masih muslim dan tidak memerintahkan maksiat. Mencela penguasa dan menyebarkan berita dusta tentang mereka adalah ciri pengikut hawa nafsu yang harus dihindari demi menjaga stabilitas dan persatuan umat Islam.
ADAB MENDOAKAN PEMIMPIN DALAM PANDANGAN AHLUSUNNAH
Seorang Muslim hendaknya senantiasa mendoakan kebaikan bagi para pemimpin, pemerintah, dan penguasanya. Hal ini sebagaimana yang sering terdengar di mimbar-mimbar dua kota suci melalui doa:
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ أَئِمَّتَنَا وَوُلَاةَ أُمُورِنَا
“Ya Allah, perbaikilah pemimpin-pemimpin kami dan penguasa-penguasa urusan kami.”
Doa tersebut mencakup permohonan agar Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan lingkungan yang baik di sekitar pemimpin, seperti menteri-menteri yang saleh yang mampu menunjukkan serta membantu mereka dalam kebaikan. Selain itu, dipanjatkan pula doa agar para penguasa senantiasa berusaha mengikuti petunjuk-Nya, serta mengamalkan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Mendoakan kebaikan bagi penguasa adalah perkara yang sangat mulia dan menjadi ciri utama pengikut Sunnah Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.
KEUTAMAAN DOA BAGI PENGUASA
Prinsip ini didasarkan pada ucapan ulama Tabi’ut Tabi’in yang masyhur, Fudhail bin Iyad rahimahullah, yang juga diriwayatkan dari Imam Ahmad bin Hambal rahimahullah. Beliau berdua pernah menyatakan:
لَوْ كَانَتْ لِي دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ مَا جَعَلْتُهَا إِلَّا فِي السُّلْطَانِ
“Seandainya aku mengetahui memiliki satu doa yang pasti dikabulkan, niscaya aku peruntukkan doa tersebut bagi penguasa.”
Ketika ditanya mengenai maksud pernyataan tersebut, Fudhail bin Iyad rahimahullah menjelaskan bahwa jika doa itu diperuntukkan bagi diri sendiri, maka manfaatnya hanya akan dirasakan secara pribadi. Namun, jika doa tersebut ditujukan bagi pemimpin, maka pemimpin itu akan menjadi baik, sehingga kemaslahatan tersebut akan dirasakan oleh seluruh negara dan rakyat.
Seorang pemimpin yang menyerukan dan mewajibkan kebaikan akan membawa pengaruh besar karena rakyat cenderung patuh demi menghindari sanksi. Hal ini selaras dengan perkataan salaf yang populer:
إِنَّ اللَّهَ لَيَزَعُ بِالسُّلْطَانِ مَا لَا يَزَعُ بِالْقُرْآنِ
“Sesungguhnya Allah mencegah dengan kekuasaan apa yang tidak bisa dicegah dengan Al-Qur’an.”
Banyak orang yang berhenti dari keburukan karena takut kepada hukum penguasa daripada sekadar peringatan Al-Qur’an. Ketakutan terhadap hukuman duniawi sering kali menjadi penghalang bagi seseorang untuk melakukan kejahatan seperti merampok atau mencuri. Oleh karena itu, para ulama senantiasa mendoakan pemimpin mereka siang dan malam, karena kebaikan pemerintah akan dirasakan manfaatnya oleh seluruh rakyat, bahkan oleh non-muslim sekalipun.
MENDOAKAN KEBAIKAN, BUKAN KEBURUKAN
Imam Al-Barbahari rahimahullah menegaskan bahwa setiap Muslim diperintahkan untuk mendoakan kebaikan bagi penguasa dan dilarang mendoakan keburukan bagi mereka, meskipun mereka bertindak zalim atau keluar dari ketaatan. Kezaliman yang dilakukan penguasa adalah dosa yang akan mereka pertanggungjawabkan sendiri di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla. Sebaliknya, jika mereka berbuat adil, pengaruh positifnya akan dirasakan oleh seluruh kaum muslimin.
Mendoakan dan memberikan masukan yang baik kepada pemimpin merupakan bagian dari nasihat yang diperintahkan oleh agama. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
الدِّينُ النَّصِيحَةُ
“Agama adalah nasihat.”
Para sahabat bertanya, “Untuk siapa, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab:
لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ
“Untuk Allah, Kitab-Nya, Rasul-Nya, pemimpin-pemimpin kaum muslimin, dan seluruh kaum muslimin secara umum.” (HR. Muslim)
Dengan demikian, mendoakan kebaikan bagi penguasa bukan sekadar urusan duniawi, melainkan bagian dari kesempurnaan agama dan manifestasi dari aqidah yang lurus dalam menjaga persatuan serta kemaslahatan umat.
Refrensi:
Komentar
Posting Komentar